Monday, December 1, 2014

PERANG RAHASIA PHONSAVAN LAOS

Jarang orang mengetahui adanya Perang Rahasia di Laos. Perang ini terjadi ketika Amerika menyerbu Vietnam. Disebut rahasia karena Amerika Serikat berperang secara rahasia dengan Laos. Meski korban yang jatuh bukan-lah rahasia lagi kebanyakan warga negara Laos.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang Perang Rahasia, saya niatkan pergi menuju Kota Phonsavan, Provinsi Xieng Khouang. Jalan darat menggunakan bis dapat ditempuh selama 10 jam. Bis yang digunakan adalah ekonomi, sehingga terpaksa berpanas ria bersama penumpang lokal. Jarang sekali wisatawan asing yang datang ke Phonsavan, itu sebabnya bis bertarif 110 ribu Kipp atau sekitar 150 ribu rupiah ini sepi akan orang asing.

Penampakan bis ekonomi jurusan Vientiane-Phonsavan yang saya tumpangi (koleksi @ysdaya)


Perjalanan lumayan membosankan mengingat lagu yang diputar di dalam bis selalu lagu lokal yang artinya pun tidak dapat dimengerti. Untungnya pemandangan di kiri kanan jalan yang seperti di daerah puncak cukup memanjakan mata.
Satu hal yang agak menarik adalah banyak sekali penumpang yang naik di tengah jalan menyandang senapan angin. Tujuan mereka sama sekali tidak untuk menembak burung, melainkan keamanan. Hal ini saya ketahui dari kenek di belakang yang membawa senapan AK 47. Rupanya perjalanan sering kali dihadang bajing loncat atau kriminal jalanan. Untungnya perjalanan saya hingga sampai Phonsavan aman dari gangguan ini.

Kenek bus yang duduk di belakang bis menunjukkan senapan AK 47 (koleksi @ysdaya)


Saat tiba di kota Phonsavan, saya lumayan terkejut akan suhunya. Ternyata di bulan Februari, suhu Phonsavan sangatlah dingin bisa mencapai di bawah 10 derajat celcius di malam hari. Di siang hari pun memakai baju tiga lapis rasa dingin pun masih menusuk tulang. Winter comes to town!

Salah satu tujuan wisata adalalah Plain of Jars. Untuk menjangkaunya kita cukup menyewa motor dari hotel seharga 75 ribu rupiah sehari. Plain of Jar merupakan situs budaya kuno nenek moyang bangsa Laos. Untuk menempuhnya, kita harus melalui perkampungan penduduk tiga kilometer sebelum situs tersebut.

Perjalanan menuju lokasi Plain of Jars melewati pemandangan ini (koleksi @ysdaya)


Memasuki Plain of Jars peringatan bahaya bom terpampang jelas. Rupanya, di situs ini masih banyak pecahan bom yang belum dibersihkan sisa Perang Rahasia. Total bom yang dijatuhkan Amerika Serikat ke Laos sebanyak 260 juta bom. Dan 30% persen di antara bom itu belum meledak sampai sekarang. Baru pada tahun 2004 situs ini mulai dibersihkan dari bom.

Hati2 kalau melangkah di area Plain of Jars (koleksi @ysdaya)


Pengunjung yang datang memang diwajibkan waspada melangkah di lokasi Plain of Jars. Plain of Jar sebenarnya kumpulan batu-batu raksasa. Di Phonsavan sendiri terdapat tiga tempat lokasi kumpulan batu-batu seperti ini. Di lokasi pertama seluas 25 hektar ini, setidaknya terdapat 334 batu ukuran raksasa. Yang mengherankan adalah mengapa batu-batu ini bisa berkumpul di satu tempat. Menurut legenda, berasal dari peradaban yang sudah hilang sekitar 1500 hingga 2000 tahun yang lalu. Meski begitu belum diketahui fungsi batu raksasa ini.


Bandingkan ukuran Plain of Jars dengan manusia (koleksi @ysdaya)


Menurut teori para antropolog dan arkeolog, batu raksasa ini dahulunya digunakan sebagai tempat menyimpan abu jenazah yang sudah dikremasi. Meski ada juga yang mempercayai , Plain of jar fungsinya sama seperti magic jar untuk menyimpan nasi dan makanan.
Di beberapa tempat, bisa disaksikan pula lubang bekas bom meledak. Wajar apabila Plain of Jar dijuluki sebagai situs budaya paling berbahaya di dunia. Bahkan terdapat pula di sini goa bekas lubang persembunyian masyarakat Laos sewaktu perang rahasia. Hampir selama 10 tahun, goa ini menjadi rumah bagi para pengungsi. Mereka menikah, melahirkan, dan meninggal di sini.

Di belakang saya berdiri adalah goa persembunyian Perang Rahasia (koleksi @ysdaya)


Salah satu kampung yang banyak dihuni korban perang rahasia adalah Khang Khai. Butuh waktu 20 menit untuk mencapai kampung ini dari pusat kota. Disebut Khang Khai karena setiap orang yang tinggal di sini pernah mengalami kecelakaan perang. Setidaknya terdapat 65 penduduk kampung pernah terkena bom dan selamat. 

Anak kampung Khang Khai (koleksi @ysdaya)

Salah seorang dari mereka adalah Bounphom. Pria 68 tahun ini terpaksa diamputasi kakinya akibat terkena ranjau. Untungnya, ia mendapat bantuan kaki palsu sehingga bisa beraktivitas menggarap sawah. Pak Bounphom adalah mantan tentara Laos yang ikut berperang melawan Amerika tahun 1968. Saat berperang di hutan Xieng Khouang tahun 1970, bapak tujuh anak ini menjadi korban ledakan bom. Ia pun terpaksa merelakan kakinya untuk diamputasi. Dan sejak itu pula Pak Bounphom menjalani hari-hari suramnya, hidup dengan satu kaki. Ironisnya, ia tidak mendapat bantuan keuangan sama sekali dari pemerintah. Barulah 29 tahun kemudian, ia mendapatkan kaki palsu gratis bantuan dari lembaga swasta Thailand. Lantas gimana caranya keluarga mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari ? Istrinya lah yang bekerja sebagai petani.


Bersama Pak Bounphom, korban Perang Rahasia (koleksi @ysdaya)



Sejarah Laos masih terus berlanjut, nanti saya akan mengunjungi ibukota Laos semasa masih berbentuk kerajaan yakni di Luang Prabang. Tetap asikin blog ini.

Monday, November 10, 2014

RENUNGAN HARI PAHLAWAN

"Pahlawan bagi gua ya ibu dan bapak"

"Marsinah dan Munir adalah Pahlawan sesungguhnya"


Kutipan di atas berasal dari cuitan di media sosial seputar Hari Pahlawan. Tidak salah memang bila mendefinisikan kata 'pahlawan' sesuai pilihan masing-masing. Namun rasanya agak offside bila kita menyeret momen 10 November terlalu jauh. Bukankah pertempuran Surabaya pada saat itu yang menjadi latar belakang Hari Pahlawan. Hari bagi mereka yang berjuang untuk menolak tunduk kembali pada penjajahan, imperialisme. Hari bagi mereka yang bercita-cita tidak mengapa puput di medan laga asalkan keturunannya bisa hidup merdeka. Hari bagi generasi masa kini untuk tidak meremehkan betapa perjuangan revolusi mengangkat bedil lebih berat ketimbang menjentikkan jempol di keypad atau keyboard.



Berbagai peringatan Hari Pahlawan digelar. Mulai dari tabur bunga di makam pahlawan hingga digelar berbagai festival dan lomba. Sah-sah saja acara peringatan dibuat. Entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang kurang. Simbol. Ya, simbol pemersatu bagi bangsa Indonesia dalam memperingati Hari Pahlawan.

Mari kita menoleh sebentar ke Inggris. Setiap minggu kedua November selalu diperingati Remembrance Sunday. Ini merupakan peringatan bagi para pahlawan Inggris yang gugur pada Perang Dunia I. Yang menjadikan peringatan tersebut unik adalah penggunaan simbol Bunga Poppy. 

Mengapa bunga poppy? Karena bunga ini dipercaya tumbuh di tengah medan perang saat prajurit-prajurit Inggris tewas. Adalah John Mcrae dokter dan juga penyair yang menemukan bunga tersebut tumbuh dan kemudian membuat syair 'Medan Perang di Flanders'.

Hingga sekarang tak heran bila Remembrance Sunday dikenal pula sebagai Poppy Day. Simbol bunga tersebut bisa disematkan di baju, jas, jersey, souvenir, tas, stadion, dan sebagainya. Warna merah bunga yang melambangkan darah korban Perang Dunia I.

Menjadi hal yang menarik kemudian bahwa peringatan tersebut bisa menjadi bagian kalender budaya. Wisatawan mancanegara yang datang pun mau tidak mau tergerak untuk memperingatinya dan mempelajari sejarahnya. Bukan hanya sekedar mengabadikan momen peringatan. Termasuk para pemain sepak bola asing yang merumput di Inggris. Mereka mengenakan jersey edisi khusus peringatan Remembrance Day dan turut mengheningkan cipta di stadion bersama penonton.

instalasi Bunga Poppy di sekitar Tower of London

Itulah mengapa di atas saya menulis bahwa Indonesia (mungkin) butuh simbol pemersatu dalam peringatan Hari Pahlawan. Simbol tersebut bisa berbagai macam. Bisa baret atau mic Bung Tomo. Atau apapun yang bisa dijadikan sebagai simbol Pertempuran 10 November di Surabaya.

Simbol tersebut bukan sekedar mengingatkan bahwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya benar ada. Namun bisa pula menjadi pemersatu antar suporter klub eks perserikatan. Saya membayangkan bobotoh dan jakmania yang sama-sama mengenakan simbol pemersatu tersebut di jerseynya masing-masing. Sehingga ketika akan bentrok mereka merasa malu pada simbol di dadanya.

Saya juga membayangkan simbol tersebut yang menjadi bagian dari festival budaya menjadi bagian dari promosi wisata Indonesia keluar negeri. Atau jangan-jangan justru bisa meredam FPI yang hari ini demonstrasi menolak Ahok menjadi Gubernur DKI (hanya) karena non-Islam. Oke, saya pikir yang terakhir barusan adalah khayalan.

Akhirnya saya hanya ingin mengucapkan, "Selamat Hari Pahlawan!"

Tuesday, November 4, 2014

JALAN JALAN KE VIENTIANE LAOS DENGAN 3 MATA UANG BERBEDA

Berada di Vientiane, ibukota Republik Demokratik Laos seperti berada di Jakarta tempo doeloe warsa 60-an. Saat itu begitu mudah ditemukan lambang PKI yakni palu arit di setiap sudut jalan. Ini pula yang saya dapati saat bertandang ke negeri yang menganut sistem pemerintahan komunis ini.

Untuk mencapai Vientiane, kita dapat menempuh perjalanan darat dari Bangkok, ibukota Thailand menggunakan bus. Perjalanan ini memakan waktu 12 jam menempuh rute Bangkok hingga perbatasan di Nong Khai hingga masuk ke Vientiane. WNI harus membeli visa o arrival terlebih dahulu sebelum masuk negeri ini. Meski sesama negara ASEAN, tetap saja WNI harus mendapatkan visa. Uniknya, visa ini bisa dibayar menggunakan tiga mata uang yakni; Dollar Amerika, Baht Thailand, dan Kip Laos.

Penggunaan tiga mata uang ini ternyata berlaku pula untuk setiap transaksi jual beli di Vientiane. Hal ini terjadi mengingat Vientiane langsung berbatasan dengan Nong Khai di Thailand sehingga mata uang Baht pun bisa ditolerir. Bahkan sinyal operator telepon Thailand pun masih bisa dijangkau di ibukota Laos. Cukup unik bukan. Bagi WNI yang menggunakan operator telepon asal Indonesia hanya beberapa saja dari operator tersebut yang bisa digunakan.



Soal akomodasi dan kebutuhan perut bisa kita temui di sepanjang Sungai Mekong. Meski memang, bagi muslim agak susah mendapatkan makanan halal. Beberapa restoran India Muslim hadir di sepanjang Sungai Mekong.

Meski Laos negeri komunis, bukan berarti pemerintah dan masyarakatnya menutup diri dari pergaulan internasional. Cukup banyak wisatawan asing utamanya Perancis yang datang ke sini. Beberapa di antara untuk bernostalgia mengingat Laos dahulu merupakan negara koloni Perancis. Itu pula sebabnya penamaan jalan banyak menggunakan bahasa Perancis.
Meski negeri komunis, ternyata Laos membolehkan rakyatnya memeluk agama. Buddha merupakan kepercayaan yang dianut mayoritas masyarakat Laos. Adapun Islam termasuk minoritas, hanya dianut oleh 0,01% atau sekitar 600 jiwa dari total populasi. Sebagian besar dari mereka adalah pendatang. Mayoritas pendatang dari Kamboja yang mengungsi sewaktu Khmer Merah berkuasa di Kamboja.

Salah satu pusat penyebaran Islam ada di Masjid Jama yang berada persis di pusat kota, meski jalan masuknya tidaklah terlampau lebar. Menurut penuturan pengurus, masjid ini dibangun tahun 1970 oleh pendatang India, Pakistan, Bangladesh, dan masyarakat setempat.


Masjid Jama lumayan kecil, hanya mampu menampung 150 jamaah. Meski begitu sering kali didatangi diplomat asing dari negara-negara mayoritas Islam, termasuk Indonesia. Itu sebabnya masjid ini menggunakan bahasa pengantar Inggris, Arab, Tamil, dan Laos.
Dahulu, umat Islam Laos ternyata pernah mencapai tiga ribu orang. Namun, setelah pemerintah komunis berkuasa kini hanya berkisar 600 orang. Itu sebabnya masjid ini daya tampungnya sedikit saja. Lantai bawah digunakan untuk belajar mengaji, dan lantai atas untuk ibadah sholat.

Komunitas muslim juga terdapat di daerah pinggiran, tepatnya di Distrik Chantaouli. Daerah ini didominasi para pekerja olongan ekonomi bawah. Masjid Al Azhar berdiri tahun 1976. Para pengungsi Kamboja-lah yang membangun masjid ini, meski harus menunggu izin tiga tahun terlebih dahulu sebelum membangun. Sadar bahwa tinggal dan hidup di negara komunis, maka pengurus Masjid Al Azhar diwajibkan mengibarkan bendera palu arit. Cukup miris memang.

Berada di Vientiane tidak sah rasanya bila tidak berkunjung ke Patuxai, simbol negara Laos. Bentuknya mirip sekali dengan Arch de Triomphe di Perancis. Patuxai atau gerbang kemenangan ini dibangun antara tahun 1957-1968. Uniknya lagi, bahan dasar bangunan ini menggunakan semen dari Amerika Serikat yang tadinya hendak digunakan membangun bandara. Dari atas bangunan ini kita bisa meihat pemandangan kota Vientiane.



Di sekitar Patuxai terdapat taman yang selalu dikunjungi masyarakat. Dan di taman inilah dipajang Gong Perdamaian Dunia berukuran besar. Gong ini sejatinya merupakan sumbangan pemerintah Indonesia pada November 2008.

Untuk kehidupan malam, ada baiknya menyusuri Jalan Fa Ngum di tepi Sungai Mekong, Banyak souvenir khas Laos eperti sutra, lukisan hingga minuman energi. Uniknya minuman energi ini merupakan air rendaman kalajengkin dan ular dimana binatang tersebut masih ada di dalamnya. Satu lagi makanan energi yakni Kai Lu, berupa telor bebek. Uniknya, embrio bebek tersebut masih ada di telor rebus tersebut.

Satu tempat yang layak didatangi adalah Lembaga Cooperative Orthotic and Prosthetic Enterpris atau COPE. Lembaga yang berdiri sejak tahun 1997 ini khusus bergerak membantu penyediaan kaki palsu bagi korban perang.

Tidak banyak yang tahu, bangsa Laos dahulu pernah terlibat perang dengan Amerika Serikat. Perang yang tidak pernah diakui negara adidaya ini, terjadi warsa tahun 60-an hingga 70-an. Antara rentang waktu 1965 hingga 1975 sebagian besar bom diledakkan di Provinsi Xien Kuang Laos. Ketika itu, Amerika Serikat berperang dengan Vietnam, mencegah agar pengaruh komunis tidak sampai ke Laos. Meski akhirnya Laos menjadi negara komunis. Nah di bawah ini adalah foto saya bersama korban perang rahasia. Sang kakek kakinya buntung akibat terkena serpihan bom.


Jenis bom yang paling banyak digunakan adalah cluster bom. Diperkirakan terdapat 260 juta bom yang dijatuhin tentara Amerika Serikat ke Laos. Parahnya lagi, 30 persen bom hingga sekarang masih aktif alias belum meledak.

Oh ya, kalau kita meninggalkan Laos jangan lupa tukar semua mata uangnya Kip dengan Baht (mata uang Thailand) atau Dollar Amerika. Karena Kip tidak akan laku di negara lain, sukur-sukur bisa dihargai separuh dari nilai aslinya.

Oke asikin cerita ke tempat lain masih di Laos di postingan selanjutnya.
 

Wednesday, October 29, 2014

ARSENAL, DARI FRENCH CONNECTION KE BRITISH CORE

Kapan fans Arsenal merasakan memiliki akun sosial media? Ya, benar. 17 Mei 2014, saat Arsenal meraih gelar Piala FA di Stadion Wembley. Kemenangan 3-2 atas Hull City mengakhiri puasa gelar selama sembilan tahun. Sekali lagi 9 tahun atau tepatnya 3283 hari!

Keberhasilan Arsenal mengangkat piala menjadi trending topic dunia. Akun-akun sosial media seperti Twitter dan Facebook pun ramai tak terkira mengekspresikan betapa bangga dan bahagianya Gooner seperti lebaran.



Saya yang berada jauh di Indonesia, tentu senang dengan momen seperti ini. Tidak pernah sekalipun menyesal mendukung klub London Utara ini. Mungkin satu-satunya penyesalan adalah mengapa tidak sejak dahulu Twitter dan Facebook ditemukan? Saat Arsenal mengalami masa kejayaannya di akhir 90-an hingga awal 2000-an. Bukankah sudah ada Friendster ketika itu? Come on, man. Apa yang bisa diharapkan selain dari testimoni kawan dan fitur who’s viewed me? Kembali pada Arsenal. Awalnya mudah saja untuk jatuh cinta padanya.

Adalah kedatangan Dennis Bergkamp tahun 1995 yang membuat saya melirik klub London Utara ini. Belum lagi nuansa Highbury yang sangat homey dipandang. Kedatangan Arsene Wenger yang wajahnya tidak meyakinkan namun mendatangkan gelar demi gelar membuat saya semakin yakin memilih Arsenal sebagai klub favorit. Saya menolak disebut sebagai glory hunter. Kalau demikian, lebih baik saya mendukung Blackburn Rovers yang lebih dahulu meraih gelar di musim 1994/1995. 

Menyaksikan racikan strategi Arsene Wenger di lapangan hijau selalu membuahkan euforia saat bertanding. Kaki serasa ingin menendang televisi bila Bergkamp atau Wright gagal mencetak gol. Musim 1997/1998 menjadi musim yang fantastis. Arsenal meraih gelar ganda baik di kompetisi Premier League dan Piala FA. Ini tentu saja membuat saya berbangga hati di hadapan kawan-kawan yang mayoritas pendukung Manchester United. Gagal lolos UMPTN ketika itu menjadi urusan nomer sekian. Sejak musim itu praktis Liga Inggris hanya dikuasai oleh dominasi Arsenal dan Manchester United. Ibarat medali hanya ada emas dan perak yang diperebutkan keduanya. Kalau bukan peringkat satu, ya runner up.



Tidak ada cerita bagi peraih medali perunggu dan seng bagi peringkat ketiga dan keempat. Chelsea ketika itu belum mendapatkan bapak asuh dari Rusia yang menerapkan permainan Championship Manager di lapangan sebenarnya. Manchester City? Klub ini menjadi tujuan bagi para pemain yang sadar dirinya semakin menua namun menolak pensiun.

French Connection menjadi resep kesuksesan di awal masa Arsene Wenger menukangi Arsenal. Siapa yang mengira pemain buangan dan tersia-siakan di klub asalnya seperti Patrick Vieira, Nicholas Anelka, Emmanuel Petit, Sylvain Wiltord, Robert Pires, dan legenda Thierry Henry bisa menjelma menjadi superstar? Tak seorang pun. Mendengar nama-nama mereka pun belum pernah sekalipun. Satu-satunya pemain bintang di Arsenal ketika itu adalah Dennis Bergkamp. Mungkin bisa dibandingkan dengan Mesut Ozil saat ini.

Kekuatan koneksi Perancis yang menyatu hebat dalam tim Arsenal ikut terbawa sampai ke timnas. Puncaknya saat timnas Perancis meraih gelar pertama Piala Dunia 1998. Sampai-sampai harian The Mirror kala itu menulis headline “Arsenal Win The World Cup”. Dan kekuatan yang sama pula membawa tim ini meraih gelar ganda untuk kedua kalinya di musim 2001/2002. Tak bisa dipungkiri kejeniusan Wenger membuat timnya atraktif dan haus kemenangan turut bertanggung jawab atas menariknya Liga Inggris untuk ditonton.

Puncaknya adalah saat Arsenal keluar sebagai jawara Liga Inggris musim 2003/2004 dan mencetak rekor tak terkalahkan dalam 49 pertandingan. Anda bisa bayangkan betapa gegap gempitanya sosial media bila twitter dan facebook sudah lahir bukan? Bisa saja Piers Morgan yang mengaku pendukung sejati Arsenal selalu membuat tagar #InWengerWeTrust ketimbang #WengerOut setiap pekan.

Arsenal mulai menurun sejak terakhir merengkuh Piala FA di tahun 2004. Arsenal bertransformasi dari sebuah klub menjadi korporat. Bagi manajemen tidak menjadi soal apakah mendapatkan gelar atau tidak. Selama posisi ekonomi menguntungkan, sejauh itu pula medali seng alias peringkat keempat bisa dianggap sebagai tropi. Pemain-pemain andalan dijual dengan harga mahal demi profit. Untuk menutupi rasa malu, maka dibuatlah istilah “We don’t buy superstar, we make superstar” . Gagah kedengarannya, namun ironis bila harus menjual pemain berkualitas ke klub rival.

Belum lagi menjadi feeder club bagi Barcelona yang entah kenapa selalu berambisi menjadi Arsenal dengan mengimpor pemain-pemainnya ke Spanyol. Pembangunan stadion baru Arsenal di Ashburton Grove yang menelan dana hingga 430 juta Pundsterling tentu butuh pengorbanan. Menggadaikan hak nama pada sponsor seperti Fly Emirates selama 15 tahun adalah pengorbanan pertama. Pengorbanan berikutnya adalah puasa gelar selama 9 tahun. Apa yang bisa diharapkan dari dana transfer pas-pasan tiap musim? Maka bermunculan-lah nama medioker veteran seperti Silvestre, Gallas, Squillachi memperkuat Arsenal.

Pendarahan keuangan bahkan berimbas dalam struktur gaji pemain. Itu sebabnya bagi pemain berkualitas seperti Nasri, Clichy, dan terakhir Sagna memilih hengkang ke klub yang sanggup membayar gaji mereka lebih tinggi. Maka menjelmalah Manchester City menjadi Arsenal wannabe di tanah Inggris.



Saya percaya selalu ada hikmah di balik musibah. Dahulu Arsenal yang menderita dan selalu menjadi bahan bully di sosial media, berangsur-angsur bisa tegak kembali harga dirinya. Piala FA dan Community Shield 2014 adalah awal prestasi. Pembelian mahal Mesut Ozil dan Alexis Sanchez menjadi bukti mewujudkan obsesi. Namun lebih dari itu, Arsene Wenger melalui Arsenal ingin mewariskan kekuatan British Core.

Mari kita berharap pada Jack Wilshere, Oxlade Chamberlain, Aaron Ramsey, Kierran Gibbs, Challum Chambers, dan Danny Welbeck menjadi kekuatan baru penerus French Connection yang sempat mengharumkan Arsenal. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan Arsenal kembali meraih juara Liga Inggris. Sesuatu yang saya yakin bahwa Steven Gerrard pun akan iri melihatnya terlebih bila ia membandingkan dirinya dengan Pascal Cygan yang meskipun namanya nyaris tak terdengar namun pernah meraih medali juara Liga Inggris bersama Arsenal ***

Pages