Wednesday, October 29, 2014

ARSENAL, DARI FRENCH CONNECTION KE BRITISH CORE

Kapan fans Arsenal merasakan memiliki akun sosial media? Ya, benar. 17 Mei 2014, saat Arsenal meraih gelar Piala FA di Stadion Wembley. Kemenangan 3-2 atas Hull City mengakhiri puasa gelar selama sembilan tahun. Sekali lagi 9 tahun atau tepatnya 3283 hari!

Keberhasilan Arsenal mengangkat piala menjadi trending topic dunia. Akun-akun sosial media seperti Twitter dan Facebook pun ramai tak terkira mengekspresikan betapa bangga dan bahagianya Gooner seperti lebaran.



Saya yang berada jauh di Indonesia, tentu senang dengan momen seperti ini. Tidak pernah sekalipun menyesal mendukung klub London Utara ini. Mungkin satu-satunya penyesalan adalah mengapa tidak sejak dahulu Twitter dan Facebook ditemukan? Saat Arsenal mengalami masa kejayaannya di akhir 90-an hingga awal 2000-an. Bukankah sudah ada Friendster ketika itu? Come on, man. Apa yang bisa diharapkan selain dari testimoni kawan dan fitur who’s viewed me? Kembali pada Arsenal. Awalnya mudah saja untuk jatuh cinta padanya.

Adalah kedatangan Dennis Bergkamp tahun 1995 yang membuat saya melirik klub London Utara ini. Belum lagi nuansa Highbury yang sangat homey dipandang. Kedatangan Arsene Wenger yang wajahnya tidak meyakinkan namun mendatangkan gelar demi gelar membuat saya semakin yakin memilih Arsenal sebagai klub favorit. Saya menolak disebut sebagai glory hunter. Kalau demikian, lebih baik saya mendukung Blackburn Rovers yang lebih dahulu meraih gelar di musim 1994/1995. 

Menyaksikan racikan strategi Arsene Wenger di lapangan hijau selalu membuahkan euforia saat bertanding. Kaki serasa ingin menendang televisi bila Bergkamp atau Wright gagal mencetak gol. Musim 1997/1998 menjadi musim yang fantastis. Arsenal meraih gelar ganda baik di kompetisi Premier League dan Piala FA. Ini tentu saja membuat saya berbangga hati di hadapan kawan-kawan yang mayoritas pendukung Manchester United. Gagal lolos UMPTN ketika itu menjadi urusan nomer sekian. Sejak musim itu praktis Liga Inggris hanya dikuasai oleh dominasi Arsenal dan Manchester United. Ibarat medali hanya ada emas dan perak yang diperebutkan keduanya. Kalau bukan peringkat satu, ya runner up.



Tidak ada cerita bagi peraih medali perunggu dan seng bagi peringkat ketiga dan keempat. Chelsea ketika itu belum mendapatkan bapak asuh dari Rusia yang menerapkan permainan Championship Manager di lapangan sebenarnya. Manchester City? Klub ini menjadi tujuan bagi para pemain yang sadar dirinya semakin menua namun menolak pensiun.

French Connection menjadi resep kesuksesan di awal masa Arsene Wenger menukangi Arsenal. Siapa yang mengira pemain buangan dan tersia-siakan di klub asalnya seperti Patrick Vieira, Nicholas Anelka, Emmanuel Petit, Sylvain Wiltord, Robert Pires, dan legenda Thierry Henry bisa menjelma menjadi superstar? Tak seorang pun. Mendengar nama-nama mereka pun belum pernah sekalipun. Satu-satunya pemain bintang di Arsenal ketika itu adalah Dennis Bergkamp. Mungkin bisa dibandingkan dengan Mesut Ozil saat ini.

Kekuatan koneksi Perancis yang menyatu hebat dalam tim Arsenal ikut terbawa sampai ke timnas. Puncaknya saat timnas Perancis meraih gelar pertama Piala Dunia 1998. Sampai-sampai harian The Mirror kala itu menulis headline “Arsenal Win The World Cup”. Dan kekuatan yang sama pula membawa tim ini meraih gelar ganda untuk kedua kalinya di musim 2001/2002. Tak bisa dipungkiri kejeniusan Wenger membuat timnya atraktif dan haus kemenangan turut bertanggung jawab atas menariknya Liga Inggris untuk ditonton.

Puncaknya adalah saat Arsenal keluar sebagai jawara Liga Inggris musim 2003/2004 dan mencetak rekor tak terkalahkan dalam 49 pertandingan. Anda bisa bayangkan betapa gegap gempitanya sosial media bila twitter dan facebook sudah lahir bukan? Bisa saja Piers Morgan yang mengaku pendukung sejati Arsenal selalu membuat tagar #InWengerWeTrust ketimbang #WengerOut setiap pekan.

Arsenal mulai menurun sejak terakhir merengkuh Piala FA di tahun 2004. Arsenal bertransformasi dari sebuah klub menjadi korporat. Bagi manajemen tidak menjadi soal apakah mendapatkan gelar atau tidak. Selama posisi ekonomi menguntungkan, sejauh itu pula medali seng alias peringkat keempat bisa dianggap sebagai tropi. Pemain-pemain andalan dijual dengan harga mahal demi profit. Untuk menutupi rasa malu, maka dibuatlah istilah “We don’t buy superstar, we make superstar” . Gagah kedengarannya, namun ironis bila harus menjual pemain berkualitas ke klub rival.

Belum lagi menjadi feeder club bagi Barcelona yang entah kenapa selalu berambisi menjadi Arsenal dengan mengimpor pemain-pemainnya ke Spanyol. Pembangunan stadion baru Arsenal di Ashburton Grove yang menelan dana hingga 430 juta Pundsterling tentu butuh pengorbanan. Menggadaikan hak nama pada sponsor seperti Fly Emirates selama 15 tahun adalah pengorbanan pertama. Pengorbanan berikutnya adalah puasa gelar selama 9 tahun. Apa yang bisa diharapkan dari dana transfer pas-pasan tiap musim? Maka bermunculan-lah nama medioker veteran seperti Silvestre, Gallas, Squillachi memperkuat Arsenal.

Pendarahan keuangan bahkan berimbas dalam struktur gaji pemain. Itu sebabnya bagi pemain berkualitas seperti Nasri, Clichy, dan terakhir Sagna memilih hengkang ke klub yang sanggup membayar gaji mereka lebih tinggi. Maka menjelmalah Manchester City menjadi Arsenal wannabe di tanah Inggris.



Saya percaya selalu ada hikmah di balik musibah. Dahulu Arsenal yang menderita dan selalu menjadi bahan bully di sosial media, berangsur-angsur bisa tegak kembali harga dirinya. Piala FA dan Community Shield 2014 adalah awal prestasi. Pembelian mahal Mesut Ozil dan Alexis Sanchez menjadi bukti mewujudkan obsesi. Namun lebih dari itu, Arsene Wenger melalui Arsenal ingin mewariskan kekuatan British Core.

Mari kita berharap pada Jack Wilshere, Oxlade Chamberlain, Aaron Ramsey, Kierran Gibbs, Challum Chambers, dan Danny Welbeck menjadi kekuatan baru penerus French Connection yang sempat mengharumkan Arsenal. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan Arsenal kembali meraih juara Liga Inggris. Sesuatu yang saya yakin bahwa Steven Gerrard pun akan iri melihatnya terlebih bila ia membandingkan dirinya dengan Pascal Cygan yang meskipun namanya nyaris tak terdengar namun pernah meraih medali juara Liga Inggris bersama Arsenal ***

Pages